Catatan Djisuk

  • Home
  • Trending
  • _Gadgets
  • _hello
  • contact


Puisi
Penari Hipokrit

Saat gemulai lekuk tubuh politik menggeser kejernihan pandangan, mengalihkan perhatian antara titik perlawanan dan persetubuhan kepentingan.

Di mana diplomat terkuat adalah pemilik modal. Yang benar bisa menjadi salah, sementara yang salah bisa berubah menjadi sebuah kebenaran tanpa bantahan yang berarti.

Ya, itulah politik hipokrit. Jika anda pandai menari di panggung politik sesuai teks arahan, maka anda akan selamat dan jadilah boneka kesayangan tuan.

Tapi, jika anda membuat manuver sekecil apapun saat menari di atas panggung kepentingan atau menari di jalan raya dengan megafon, terlebih jika itu dapat membongkar kebusukan tubuh politiknya yang selalu berlenggak lenggok gemulai bak ular betina mencari mangsa.

Atau kau jelaskan bagaimana ia menggoyang kepala dengan iringan instrumen perjuangan, seolah mereka benar-benar berjuang untuk kepentingan universal. Sayangnya, para penonton lupa satu hal, bahwa di atas kepalanya, ada dua tanduk yang siap merobek segala kain kecemasan berbentuk protes. Dan akhirnya, para pendamba keadilan, akan meringkuk busuk di balik jeruji besi oleh telunjuk boneka penari kekuasaan hipokrit.

Atau, meregang nyawa dengan alat bukti yang sungguh menggelikan. Karena mereka, yang tidak ada, bisa diada-adakan.

Selamat Hari Tari Sedunia. Menarilah, dengan gayamu sendiri.

Djisuk.
Jeneponto, 29 April 2020
  • 1 Comments



Puisi
Mata Sejarah
(Djisuk)

Setengah perjalananku telah usai.

Aku merangsek dari jalur terjal tebing kebohongan, menyibak semak belukar kemiskinan, berharap dapat lari dari keterpurukan. Padahal, alam semesta sungguh tak pernah kekurangan pasokan kebahagiaan.
Aku meninggalkan segala jejak perjalananku sebelumnya, tepat di sudut-sudut mimpi akan janji kemenangan.

Teriakan arloji perjuangan terus berputar tak pernah melawan arah, mengekori gerak matahari, teriknya memantul di sekujur tubuhku, dan akhirnya menjelma bagai jelaga di tungku dapur revolusi yang terlupakan.

Waktu terus berputar, meninggalkan yang lamban di perseteruan manusia. Aku menyaksikan, betapa pengkhianatan akan selalu mendapatkan kursi empuk dan menguasai seluruh pelatuk, serta moncong senjata akan ikut kemana telunjuk si pengkhianat mengarahkannya. Lalu, Undang-undang pun ikut menyembah di kakinya.

Di masa-masa seperti ini, tak penting betul menjadi pintar, jujur dan tawakal agar dapat hidup enak. Sebab, menjadi orang goblok itu lebih mungkin menuai kesejahteraan daripada menjadi orang arif.

Orang goblok akan selalu mendapat keuntungan atas kegoblokannya, sementara orang-orang arif akan berakhir di tiang gantung, atau dengan moncong senjata menempel di jidatnya, bila mana ia terus berpikir dan lancang bersinggungan dengan kekuasaan yang hipokrit.

Aku kembali merangsek dari jalur terjal tebing kebohongan satu ke kebohongan lain, menyibak semak belukar kemiskinan di setiap langkah, berharap dapat lari dari keterpurukan yang sama. Padahal, alam semesta sungguh tak pernah kekurangan pasokan kebahagiaan.

Dari puncak-puncak ketinggian cakrawala, aku berdiri di atas bukit, menatap nanar ke sebuah lembah.

Di sana, pohon-pohon tak lagi bisa hidup damai, air bersih tak lagi dapat bertahan dengan kejernihannya. Binatang-binatang lucu tak lagi dapat dijumpai mata, keseimbangan ekosistem telah hancur. Sementara yang tersisa, hanya binatang-binatang jalang berdasi, pemuja kekayaan kikir lagi menindas.

Mereka bersemayam di dalam beton-beton penjulang langit, kokoh penampakannya, namun sebenarnya ia sangatlah rapuh. Sebagaimana berahi yang meledak-ledak, membuat empunya kalap oleh kenikmatan sementara, sebelum akhirnya terjun bebas terkulai lemas dan mati digilas waktu. Itu satu-satunya harapan bagi rakyat jelata yang tertindas.

Aku adalah mata sejarah yang menyaksikan setiap pergulatan dan perubahan.
Aku melihat naskah proklamasi dibacakan. Melihat soekarno dan Hatta digelandang oleh sekelompok pemuda ke Rengasdengklok. Melihat bagaimana wajah-wajah menggemaskan dan mengharukan meneriakkan kemerdekaan sembari mengepalkan tinju ke angkasa.

Aku juga menyaksikan bagaimana negeri ini diisi oleh kelompok-kelompok bajingan yang menipu kemerdekaan. Aku melihat bagaimana tanah air ini terancam kembali, kemudian diselamatkan oleh Dr. Syafruddin beserta kawanannya dan juga Jenderal Soedirman beserta prajuritnya.

Aku adalah mata sejarah.

Aku menyaksikan bagaimana para petinggi negeri ini berlomba-lomba mengemis kepercayaan kepada rakyat, sebelum akhirnya rakyat kembali ditikam dari belakang oleh kepercayaannya yang teramat polos.

Aku melihat bagaimana rezim di negeri ini berganti-ganti atas nama mimpi-mimpi celaka.

Orla berganti orba. Hingga sampai pada era Reformasi yang membuatku seolah berada jauh dari tebing terjal kebohongan dan semak belukar kemiskinan.

Ternyata aku salah. Reformasi semacam  itu, juga adalah fajar kemenangan yang palsu.

Aku kecewa.

Akhirnya, aku kembali terperangkap di jalur terjal tebing kebohongan dan berjuang menyibak belukar kemiskinan yang lebih ganas lagi.
Celakanya. Sekarang, aku telah buta. Mataku diambil paksa oleh pihak-pihak penipu, lalu digunakan di sekolah-sekolah, di institusi-institusi, di mana saja rezim ini dapat mengibul.

Mataku digunakan untuk melihat dari sudut pandang nafsu kekuasaannya, kemudian memaksa sejarawan nulis sejarah palsu di bawah tekanan moncong senjata dan kepentingan pemodal yang siap menghisap darah perawan ibu pertiwi.

Aku terjerembab pada sistem yang kacau ini. Dan aku mata sejarah, sudah tak bisa bersejarah apa-apa. Cara pandangku, tergantung dari siapa yang berkuasa.

Jeneponto, 13 April 2020.


  • 0 Comments
Djisuk.



Kulihat ada secarik bahagia di hatimu lewat senyum tulus dari bibir mungilmu kemarin sore. 

Seperti hujan yang menderai-derai menuju lorong ceritamu menarik perhatianku hanya tertuju padamu.

Tak mengerti apakah bahagia itu hadir karena lembaran-lembaran sejarahmu yang lalu dan dahulu ia mengucuri jiwamu dengan cinta yang meriah, telah berhasil kamu buka kembali dan menyanyikannya untukku.

Tak ingin kucari tahu tentang apa dan mengapa engkau begitu manis di antara senyum dan tangis mulai berlomba dahului ungkapan hatimu lewat deraian birai bibir yang telah berhasil jadikanku tertegun kagum, sekagum- kagumnya.

Apakah yang harus kulakukan untuk segala hal yang sudah terang mata di segala indraku, memandangimu hanyalah bayang dirinya selimuti dekapanmu yang kudapatkan.

Bukan kamu, melainkan dia yang selalu terbayang. Sebab cirinya yang begitu khas hingga imajinasiku sekejap menjadi sangat dewasa, mampu mengenali dirinya sekali pun sepasang mataku belum pernah bertatap langsung tanpa sehelai tabir di antaranya.

Adalah dia yang lebih awal mengenalmu dan pula dia yang lebih dahulu mencuri hatimu dengan paksa, menyakitimu lewat peluknya yang kasar dan memakimu atas nama cinta bersama ungkapan sayang yang aneh. Dan kau tetap saja berdongeng tentangnya, tentang setia yang sama-sama kalian gendong di punggungmu.

Di saat engkau bercerita tentang hatimu yang telah tercabik-cabik, jiwa dan harapanmu telah dirobek-robek tanpa belas kasih sedikit pun darinya, tetap saja bukan narasi itu yang dapat kusimpan, melainkan kalimat-kalimat sendu seperti di saat engkau berbisik, “he is my first kiss. And I can’t forget the time when he kissed my lips.”

Sore menuju malam dan pagi pun sudah siap menjadi teman bermain bagi anak-anak jalanan yang telah mematahkan pulpennya.

Oh tidak!

Bukan anak-anak itu yang mematahkan pulpennya, melainkan sistem yang ditunggangi oleh rezimlah yang memaksa mereka dengan sangat dramatis untuk menggantung sepatu dan seragam sekolahnya, lalu merubah coretan kertas cakar ayamnya menjadi lembaran-lembaran pembungkus kacang di malam hari.

Seperti mereka dan kamu yang kau anggap merasa dipaksa, mereka dipaksa untuk meninggalkan bangku belajarnya tanpa protes, dan kau pun merasa direbut hatimu dengan paksa, namun kau malah menikmatinya.

Oh my God, permainan macam apa ini?

Haruskah aku hidup di antara mereka-mereka yang selalu menganggap dirinya tersakiti namun di lain sisi, ia pun turut menikmatinya. Ataukah aku yang harus pergi meninggalkan mereka dengan konsekuensi, bahwa akulah yang akan menanggung segala derita yang selama ini mereka ceritakan padaku?!

Please answer me!!!

Perasaanku mulai gusar, logikaku pun menjadi korban oleh deretan-deretan kata cinta yang memabukkan, namun sebenarnya ia hanyalah kalimat basi yang sebentar lagi jadi sampah.

Aku sering melihat para penguasa mengobral cintanya kepada rakyat. Mereka berkata, “aku adalah pemimpin dan aku adalah pelayan bagi kalian.”

Tetapi, di setiap sorot mataku memandang, mengapa hanya kebencian yang kudapatkan?mengapa hanya penderitaan yang kusaksikan?

Aku mulai mengerti, kalau cinta dan pelayanan yang ia maksud adalah penderitaan bagi rakyat.

Aku pun menyaksikan hal sama pada dirimu, pada kasihmu yang kau sebut adalah pengabdianmu. Ternyata yang kau maksud cinta adalah hasrat untuk membunuhku lewat senyummu yang masih malu, malu dan masih sembunyi di balik sayapmu yang sebentar lagi melangsungkan ritualnya sebagai persembahan kepada dewamu yang bajingan itu.

Dan kini, aku dapat mengurai satu definisi cinta di antara jutaan paradigma yang kusut. Bahwa cinta adalah seni menjemput kematian dengan senyuman.

.....................

Djisuk_


Instagram : @djisuk53


  • 0 Comments


Djisuk_


Jam dinding masih tersampir rapi di badan tembok warna putih ruang tamu.


Suara kendaraan berbagai rupa merayap di jalan raya. Sungguh teramat bising dan mengganggu ketenangan.


Padahal, jam berwajah bundar di tembok itu, jarumnya sudah mengisyaratkan, malam telah menggelinding ke dini hari sejak lima belas menit yang lalu.

Detak-detak samar dari mesin mungil yang tak pernah lelah memutar jarum-jarum penunjuk waktu. Mengingatkan bagaimana manusia kini yang terus bekerja siang malam. Bahkan dari pagi ke pagi atas nama lembur demi tercapainya target dengan upah tambahan. Padahal, upah tambahan tak pernah sepadan dengan tenaga dan derita pekerja yang abai dari nurani sang Tuan Harta.

Sial!!!

Demi target, sehingga kebahagiaan bersama orang-orang terkasih dan kesempatan tepat merawat tubuh, kini tergadai tanpa hak dan proses rasionalitas.

Bahkan, target dari Tuan Harta, sangat ampuh menghapuskan para mantan dari ingatan, demi memastikan produksi tetap melimpah tanpa peduli dengan distribusi yang adil.

Meski terkesan edukatif, sebab target seolah membimbing pekerja pada jalan kesetiaan, karena pekerja hanya akan mengingat keluarga dan pekerjaan saja.

Namun di balik semua itu, ada keresahan yang menumpuk jadi luka. Luka-luka menjelma bagai amunisi perang, lalu perang pecah tersulut oleh ketidakadilan yang diproduksi dari butanya nurani-nurani Tuan Harta berzirah kesombongan lagi berjiwa binatang.

Tiga puluh menit sudah, dini hari menggelinding kian nampak. Namun deru mesin kendaraan seolah tak mau padam mendaras jalan raya lalu emisinya mengambang di udara membentuk polusi.

Apakah pengendara itu masih kurang makan garam, sehingga belum tahu kalau saat ini sudah waktunya merebahkan diri di tempat tidur?

Astaga!!!

Apakah kesibukan mereka yang selalu hilir mudik bahkan di waktu istirahat begini adalah karena si Tuan Harta?

Apakah betul mereka memaksa manusia menjadi sekrup-sekrup industri bagai robot yang tak bernyawa dan tak kenal lelah?

Sungguh itu sangat mencekik dan memendekkan napas yang semestinya tenteram tak sesak.

Tapi sesak napas, tenggorokan kering itu tidak berlaku bagi si Tuan Harta beserta konco-konconya. Mereka justru menyambung hidup dan bernapas lega oleh hasil dari tercekiknya kehidupan Akar Rumput.

Sementara Akar Rumput hanya dapat bergantung pada narasi keadilan di pangkuan penguasa sistem. Di sanalah para Akar Rumput menggantungkan hidup dan kehormatan dirinya.

Sayangnya, janji-janji keadilan itu hanya berlaku saat musim kampanye politik tiba. Katanya, keadilan adalah milik seluruh rakyat. Tapi itu hanya berlaku di musim kampanye saja. Tidak lebih, tidak kurang.

Celakanya. Akar Rumput selalu saja jatuh ke lubang yang sama secara teratur. Suaranya dibeli dari seorang calon pejabat yang pandai membual soal politik barat dan eropa. Padahal pembual itu hanya boneka dari si Tuan Tanah. Sama saja dengan sekrup industri. Bedanya boneka pembual ini lebih elit ketimbang sekrup industri.

Sementara hakikat politik barat dan eropa itu sungguh tak bisa mensejahterahkan manusia yang tercipta dari Tuhan Yang Esa. Sederhananya, konsep kesejahteraan itu rasionalnya datang dari Tuhan Yang Maha Esa juga. Bukan dari hasil onani politik manusia yang menghasilkan penindasan dan kesejahteraan sepihak.

Lihatlah. Boneka-boneka itu teramat gemar mengibuli rakyat. Mulai dari janji-janji politik yang terus bertambah tanpa menyelesaikan janji-janji sebelumnya. Menaikkan harga-harga kebutuhan pokok dan penunjang lainnya. Mencabut subsidi wajib untuk rakyat yang diumumkan pada tengah malam hari.

Padahal, rakyat di jam seperti itu, sedang sibuk-sibuknya berganti jam kerja, atau di jalan raya menuju rumah, atau yang lainnya sedang menenangkan penatnya dalam keadaan lapar menyiksa diri.

Atau, rakyat sedang melaksanakan pekerjaan mulia, mengucurkan peluh bersama kekasih di ranjang asmara demi lahirnya manusia-manusia baru.

Lagi-lagi. Pengumuman kebijakan paling bejat itu, hanya disaksikan oleh mereka-mereka saja beserta Tuan Harta yang diaminkan keserakahannya oleh pengurus negara.

Celakanya lagi. Akar Rumput selalu saja sok polos dibeli kepercayaannya di musim kampanye, tanpa perlu menimbang-nimbang berdasarkan fakta penderitaan selama kemerdekaan berjalan mendaras teka-teki waktu.

Sudah saatnya Akar Rumput meninggalkan kebodohan yang menjadikannya munafik. Bilang benci ketidakadilan, tapi menjilat juga saat diberi keuntungan dari penguasa pembual, meski tetap tak adil untuk saudara-saudaranya yang lain.

Kita harus menyudahi santet ketidakadilan dari sistem ini yang terus-menerus memproduksi kader politik karbitan, di mana prestasinya hanya terkenal merampok uang negara dan menyengsarakan rakyat.

Sehingga, politikus-politikus yang pandai berbual, hendaknya meninggalkan penerapan politik barat dan eropa yang hanya menjadi belati dalam tenggorokan di setiap inci napas Bangsa ini.

Kalau benar kita sudah merdeka tapi masih tetap menderita seperti ini. Itu artinya, kita perlu mendeklarasikan kemerdekaan lagi.

Sebab narasi kemerdekaan di bawah sistem kapitalisme, adalah penindasan dan kebodohan paling sengaja.(*)

Djisuk_

Makassar, 3 Februari 2020.
  • 2 Comments


NOVEMBER : Dji Suk

Kata yang ganjil.

Saat itu, aku sering mengigau dalam tidurku.
Kata ibuku, aku sering menyebut-nyebut kata yang ganjil. Seperti Beruang, hidup mahasiswa, lalu Beruang lagi.

Saat kejadian ganjil itu terjadi lagi, dan terus berulang.
Ibuku mulai cemas sambil meraba hatinya.
Ibuku pun mulai memandangiku dengan sangat dalam.

Mungkin, naluri seorang ibu, sudah seperti itu sejak awal penciptaannya.
selalu cemas, setiap anaknya mengalami sesuatu seperti, anaknya jarang makan menurutnya.
Dia menerawan tubuh anaknya sambil menduga dalamnya.
Lalu berkata, "tubuhmu ringkih seperti busung lapar, apakah kau jarang makan nak?"

Bukan hanya itu.
Ibu juga seringkali mencemaskan hal-hal yang tak perlu.
Seperti, ketika anaknya sedang mulai terserang demam cinta.

Tapi, terkhusus ibuku tidak!
Mungkin ibu cemas, karena aku sering mengigaukan kata Beruang dan selanjutnya hidup mahasiswa.

Sejujurnya, aku heran saja, mengapa Seorang ibu punya perasaan yang begitu peka.
Lalu, bagaimana denganmu?
Apakah kau sama dengan ibuku?
Yang punya perasaan peka paling manja.

November.

Angin barat sudah mulai bersahut-sahutan.
Ia selalu datang bergandeng hujan, mungkin mereka sepasang kekasih.
Menampar-nampar wajahku, dan menyiramiku dengan kekasihnya yang basah.

Aku hampir lupa, mengapa di saat aku sering mengigau tentang kata Beruang, hidup mahasiswa, aku tak pernah benar-benar serius menjawabnya, agar kecemasan dada ibuku sedikit meredah.

Tetapi sungguh, aku tak pernah lupa.
Kalau dulu, aku sering memanggilmu dengan nama Beruang, seperti Rasulullah menyebut Aisyah dengan nama Khumairah.

Aku juga sudah ingat, kalau nama beruang itu berasal dari kesalahanku menyebut nama seekor hewan lucu yang menggemaskan.
Panda. Ya, aku ingin menyebutmu Panda, tetapi aku malah menyebutnya Beruang.

Tapi tak apalah, aku juga sangat menyukai beruang. Bulunya lebat menghangatkan, sama hangatnya perasaanku saat melihatmu tersenyum. Bahkan saat kau sedang memarahiku.
Aku suka momen kedua itu. Sungguh.

Dulu, kau pernah bilang padaku, kalau kau sangat menyukai hujan.
Entah karena kenangan manis bersama mantanmu, atau karena dulu kau diputuskan saat hujan turun.

Kau mulai suka pada hujan.
Karena hujan telah menyelamatkanmu dari api kemarahan yang membuat darahmu mendidih, hingga air matamu meninggalkan kelopak indahnya, pergi melewati sungai mungil nil yang ada di wajahmu.

Setelah tahu, kau suka hujan.
Aku pun mulai berpikir tentang sesuatu yang kadang dibenci orang.
Sebab, aku merasakan penderitaan yang terpenjara di balik senyum manismu, bibir tipis dan cerewet, kau terus bersembunyi dari semua pertahananmu itu.

Aku Peduli.

Itulah mengapa aku berpikir, esok lusa, aku ingin menjadi aktivis saja.
Selain karena mengerti kondisi negara dan mengadvokasi masyarakat.
Di samping itu, aku juga ingin mengadvokasi hatimu, dan membebaskan penderitaan yang terpenjara dalam dirimu.

Aku sadar.

Kau terlalu sayang untuk disakiti.
Alam semesta ini akan bangkrut bila saja ia kehilangan dirimu.
Dan aku sayang pada semesta ini, aku tak ingin ia bersedih karena kehilanganmu.
Makanya, aku berusaha agar bisa menjagamu demi keseimbanga semesta ini.

Aku ingin.

Dan aku tak tega melihat kecantikanmu, digerogoti oleh parasit kebahagiaan, hingga kau terlampau tua lebih dari semestinya.

Aku tak ingin kau menjadi tua sendirian.
Aku takut kau kesepian lalu sedih.
Aku tak ingin semua itu terjadi, walau kutahu, pada akhirnya memang, kau akan menua juga.

Maka dari itu, izinkan aku menua bersamamu, dan berikan padaku sebagian penderitaan yang menyakitimu.

Biarlah kau luka, dan aku yang menanggung perihnya.

Makassar, 21 November 2018
  • 0 Comments



KEADILAN BUKAN UNTUK ORANG KAYA SAJA
Karya : Djisuk

Banyak tentara veteran ketika dipersoalkan tentang kemerdekaan, mereka akan marah dan menyumpah serapah seolah perjuangannya tak dihargai.

Namun ketika ditanya, mengapa ada banyak di antara kalian yang masih menderita kemiskinan bahkan seolah dibuang dan dilupakan belaka oleh negara setelah kemerdekaan?

Maka mereka pun kontan menunduk, hening cipta dimulai, air mata mulai menyeruak dari kelopak mata yang sudah mengendor, lalu sumpah serapahnya kini berbalik arah menuju para pejabat-pejabat culas, kacung yang korup tak tahu diuntung, dan mereka masih sangat asyik duduk berbelaimesrah dengan bekas penjajah di bilik istana.

Oh... negara bangsa yang blingsatan. Lupa, lupa pula kau dengan darah dan air mata yang memupukmu hingga tanah dan isimu dapat tumbuh subur. Namun setelahnya, segala rupa yang tumbuh di dalamnya, kini habis tak tersisa disikat oleh berahi kacung yang pandai mempermainkan perasaan dan keadilan.

Lalu di negara bangsa ini, seolah tergambar jelas sketsa busuk dari kejahatan yang tak terampunkan lagi.

Bahwa Keadilan hanya untuk orang kaya saja-walau ia adalah kacung yang sangat pandai menjilat-jilat sepatu bekas penjajah dan meludahi anak bangsa yang berdarah-darah karena melawan tirani negara bangsa.

Oh... para pemuda dan pemudi yang bertulang kebenaran, berdarah merah mendidih melihat penindasan, cabutlah penderitaan di pundak-pundak para martir Tuhan pendahulumu, lalu teriakkanlah dengan lantang gagah perkasa kebenaran itu, lalu campakkanlah rasa takutmu dan berdakwalah dengan tulus bahwa Keadilan Bukan Untuk Orang Kaya Saja!!!

Jeneponto 10 Juli 2019.
  • 0 Comments
Postingan Lama Beranda

About me

a


Djisuk

"Hobi Nulis dan Jalan-jalan.”


Follow Us

  • instagram
  • facebook
  • Twitter

Cari Blog Ini

Banner spot

Blogger Makassar

Komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri

instagram

Created By ThemeXpose | Distributed By Blogger

Back to top